Indonesian Freebie Web and Graphic Designer Resources
Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Desember 2010

4 Senyawa Baru Murbei Temuan Ferlinahayati

JAKARTA - Penelitian Ferlinahayati terkait fitokimia dan sifat sitotoksik senyawa turunan fenol pada Morus, atau yang biasa dikenal masyarakat sebagai tanaman murbei mengantarkannya menjadi seorang doktor.

Dengan menemukan empat senyawa baru dan menjabarkan beberapa senyawa yang memiliki sifat toksisitas terhadap sel murine leukemia P-388, beliau berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Fitokimia dan Sifat Sitotoksik Senyawa Turunan Fenol dari Genus Morus yang Tumbuh di Jawa Barat" pada Sidang Terbuka Program Doktor yang diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana ITB, belum lama ini di Gedung Annex ITB.

Ketertarikan terhadap keunikan struktur dan berbagai aktivitas yang terdapat dalam senyawa turunan fenol dari Morus melatarbelakangi Ferlinahayati mengkaji tanaman Morus, khususnya Morus asal Jawa Barat, lebih dalam.

Pada beberapa penelitian Morus memiliki aktivitas sitotoksik, antinematodal, antiviral, antiagregasi platelet dan antiinflamasi. Penelitian disertasi Ferlinahayati mengkhususkan pengkajian fitokimia dan sifat toksisitas pada tanaman yang biasa menjadi pakan ulat sutra ini.

"Penelitian disertasi ini dilakukan dengan menggunakan tiga spesies tumbuhan Morus yaitu M australis Poir, M. nigra Linn, M. alba Linn yang merupakan spesies Morus di daerah Jawa Barat, serta dikaji pula sifat sitotoksik senyawa-senyawa yang berhasil diisolasi terhadap sel murine leukemia P-388," ujar Ferlinahayati.

Melalui penelitiannya di Prodi Kimia FMIPA ITB, dia berhasil mengisolasi 24 senyawa turunan fenol dengan empat senyawa baru dari Morus, serta memperoleh beberapa senyawa turunan yang aktif sitotoksik terhadap sel murine leukemia P-388.

Menurut promovenda yang dipromotori oleh Prof Dr Euis Holisotan Hakim, serta ko-promotor Prof Dr Yana Maolana Syah dan Dr Lia Dewi Juliawaty ini, penemuan empat senyawa baru yakni 6,3'-O-dimetilmorasin M (1) (golongan 2-arilbenzofuran), 5,7,2',4' -tetrahidroksi- 3 -metoksiflavon (2) (golongan flavonoid jenis flavonol), 7-epialboktalol (3) (dimer stilben) dan morunigrin (4) (gabungan stilben-arilbenzofuran) telah menghasilkan pemahaman baru pada fitokimia genus Morus.

Lebih lanjut ia menjelaskan, penemuan 20 senyawa lainnya mempertegas kemampuan genus ini untuk memproduksi beragam senyawa turunan fenol.

Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan sitotoksisitas terhadap sel murine leukemia P-388 senyawa hasil isolasi dengan keberadaan gugus isoprenil pada posisi C-3 dari senyawa flavon.

Sidang yang juga dihadiri Dekan Sekolah Pascasarjana ITB Prof. Dr. Ir. Ofyar Z. Tamin berakhir dengan begitu membanggakan ketika Prof. Dody Sutarno, Ph.D, selaku ketua sidang mengumumkan bahwa Ferlinahayati berhasil mempromosikan gelar doktornya dengan predikat cum laude.(rhs)


Prof Siti Kembangkan Teknik Biologi Molekuler

BIOTEKNOLOGI modern di bidang pertanian sudah banyak dilakukan. Sebagai teknologi baru yang menggunakan teknik-teknik biologi molekuler dan rekayasa genetika, mampu untuk mengelola kesehatan tanaman, mengoptimalkan hasil produksi, dan mengurangi penggunaan pestisida.

Khusus untuk bioteknologi perlindungan tanaman (Biotek Perlintan), saat ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat dan banyak memberikan manfaat dalam mempertahankan dan meningkatkan produksi. Biotek Perlintan terdiri atas tiga aspek pokok, yakni diagnosis atau identifikasi organisme pengganggu tanaman (OPT), interaksi OPT dengan tanaman inang dan lingkungan, serta pengendalian OPT.

Melalui teknik-teknik biologi molekuler, OPT dapat diidentifikasi dan dideteksi secara lebih akurat untuk kepentingan diagnosis yang tepat dan cepat. "Teknik-teknik biologi molekuler ini sangat membantu dalam memahami perkembangan infeksi suatu penyakit dalam tanaman inangnya maupun pengaruh faktor lingkungan terhadap kejadian, keparahan serangan dan penyebaran suatu OPT," papar Prof Dr Ir Siti Subandiyah, di Balai Senat, saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Rabu 23 Juni lalu,dalam keterangan tertulis UGM, di Jakarta, Kamis 24 Juni.

Selain itu, dihasilkan pula manipulasi genetika terhadap musuh alami, jasad antagonis, dan struktur komunitas biologis sehingga menghasilkan lingkungan biotik dan abiotik yang mampu menekan perkembangan OPT dengan lebih efektif.

"Kendala paling signifikan terhadap produksi buah-buahan di lapangan adalah masalah OPT. Permasalahan OPT ini menyebabkan menurunnya jumlah produksi secara kualitas dan kuantitas," tuturnya.

Menurut Siti Subandiyah, berbagai penyakit tanaman yang semula tidak diketahui identitas patogennya karena tidak dapat diisolasi pada medium buatan menjadi terungkap dengan menggunakan teknik identifikasi molekuler.

Perunutan basa DNA sekuen-sekuen baku (conserve), seperti ribosom 16S untuk jasad prokariot atau ribosom 18S untuk jasad eukariot, gena mikrosatetelit pada bakteri dan jamur, atau gena mantel protein pada kelompok virus, dapat digunakan untuk identifikasi jasad yang tidak bisa dikulturkan pada medium buatan.

Seleksi dan perakitan terhadap jenis/kultivar jeruk di Indonesia, menurutnya, harus segera ditingkatkan, terlebih dengan semakin meluasnya penyakit HLB yang sulit dikendalikan.

Jenis/kultivar jeruk yang pertumbuhannya cepat dengan kebugaran yang tinggi akan mampu berkompetisi dengan perkembangan Las yang relatif lambat di dalam jaringan inang.

"Kombinasi batang bawah dengan jeruk-jeruk mandarin/tangerine sebagai batang atas yang dilakukan secara in vitro di Faperta UGM menunjukkan ada batang bawah yang lebih menjanjikan untuk mengganti jenis batang bawah Rough Lemon (RL) dan Citrus Junos (CJ) yang selama ini selalu digunakan di Indonesia," terangnya.(rhs)


Cangkang Telur Ternyata Bisa Jadi Pakan Ternak!

YOGYAKARTA - Selama ini potensi limbah kerabang (cangkang) telur di Indonesia cukup besar. Sayangnya, potensi tersebut hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal khususnya sebagai pakan unggas dan hanya dimanfaatkan untuk hiasan kerajinan.

Hal ini disebabkan karena sejauh ini limbah tersebut mudah terkontaminasi mikrobia dan kecernaan mineral kalsiumnya yang masih rendah. Disamping itu, keberadaanya dapat menyebabkan pencemaran lingkungan karena sulit didegradasi oleh mikrobia tanah.

Terkait dengan limbah kerabang telur tersebut Prof. Dr. Ir. Tri Yuwanta, SU, DEA, yang juga Dekan Fakultas Peternakan UGM, telah berhasil mengembangkan metode prosesing limbah kerabang telur menjadi pakan sumber mineral ayam petelur.

Metodenya yang dipergunakan dalam prosesing limbah kerabang telur tersebut, diawali dengan perendaman kerabang telur dengan air panas 80ยบ celcius selama 15-30 menit, dibersihkan, lalu dikeringkan. Kemudian direndam lagi menggunakan asam fosfat dengan beberapa konsentrasi, setelah itu dibuat tepung. Setelah jadi tepung, kemudian dicampur dengan bahan baku pakan lain seperti jagung giling, bekatul, bungkil kedelai dan lain-lain.

“Metode prosesing limbah kerabang telur menjadi pakan sumber mineral ayam petelur ini sudah mulai dikembangkan,” papar Ahmad Rois Mansur, mahasiswa Fakultas Peternakan, Program Studi Ilmu dan Industri Peternakan 2007, yang juga terlibat dalam penelitian tersebut, Rabu (3/10/2010).

Pemanfaatan limbah kerabang telur ini imbuh Mansur merupakan salah satu upaya untuk memperkaya nutrien mineral pakan untuk ayam petelur. Kerabang telur menyusun sekitar 10 persen dari total berat telur. Kerabang telur sebagian besar (98,4 persen) terdiri dari bahan kering dan hanya 1,6 persen air. Kerabang telur mengandung 95,1 persen mineral dan 3,3 persen protein.

“Di antara mineral tersebut yang paling banyak adalah kalsium karbonat (98,43 persen), magnesium karbonat (0,84 persen) dan kalsium fosfat sebanyak 0,75 persen,” katanya.

Sebagai gambaran, produksi telur ayam ras nasional pada 2009 sebesar 1.071.398 ton. Jika rata-rata berat telurnya 60 gram maka kerabang telur yang dihasilkan dalam setahun adalah 178.566,33 ton. Berat itu setara dengan 175.762,84 ton kalsium karbonat, 1.499,96 ton magnesium karbonat dan 1.339,25 ton kalsium fosfat.

Dia menegaskan, biaya produksi tepung kerabang telur (untuk 100 kg) diperkirakan sebesar Rp89.000. Jadi, harga pembuatan tepung kerabang telur per kgnya adalah Rp890 sedangkan harga sumber mineral yang juga sering digunakan yaitu tepung kerang berharga Rp2.500 per kg (selisih Rp 1.610).

“Rata-rata konsumsi pakan ayam petelur per hari adalah 100 gram per ekor per hari dengan penggunaan tepung kerabang telur per harinya 3 gram (3 persen dari total pakan), maka biaya produksi per hari yang dapat dihemat adalah sebesar Rp48.300,00 per hari pada populasi ayam 10 ribu ekor atau Rp1,449 juta per bulan,” kata Mansur yang bersama timnya menjadi juara II dalam 2nd SATU Student Business Plan Competition di National Cheng Kung University Taiwan belum lama ini.

Lebih jauh Mansur menguraikan, ayam yang diberi kerabang telur sebagai sumber mineral mampu mencapai produksi 76,2 persen sedangkan dengan suplemen mineral lain sebesar 71,1 persen (selisih 5,1 persen). Sehingga pada peternakan ayam petelur yang memiliki populasi sebesar 10.000 ekor akan menghasilkan telur 510 butir lebih banyak (setara dengan 30,6 kg).

Jika harga 1 kg telur Rp12 ribu maka keuntungan yang bisa diperoleh adalah Rp367,2 ribu per hari atau Rp11,01 juta per bulan. Asumsi rata-rata berat telurnya 60 gram. Sehingga keuntungan total per bulan yang bisa diperoleh baik dari efisiensi pembuatan pakan maupun penjualan telur adalah Rp12,465 juta.

“Semakin besar skala usaha atau semakin banyak populasi ayam maka keuntungan yang diperoleh juga akan semakin banyak. Selain keuntungan finansial yang bisa diperoleh, suplementasi mineral menggunakan tepung kerabang telur juga dapat mendukung program ramah lingkungan,”


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More